Kamis, 30 April 2015

KISAH DOA-DOA UNIK YANG LANGSUNG DIKABULKAN ALLAH

Al Qur’an sering memberikan pelajaran kepada kita melalui kisah. Tentu, kisah yang dipaparkan dalam Al Qur’an adalah kisah nyata.
Diantara kisah-kisah itu, ada kisah tiga doa unik yang langsung dikabulkan oleh Allah. Doa apa, dipanjatkan oleh siapa, mengapa unik dan bagaimana langsung dikabulkan Allah? Mari kita simak.

DOA NABI AYYUB

Kisah doa Nabi Ayyub ini disebutkan dalam Surat Al Anbiya’ ayat 83-84.
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah disentuh bahaya (musibah/penyakit) dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadaya dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (QS. Al Anbiya’ : 83-84)
Di mana uniknya doa ini? Nabi Ayyub diuji oleh Allah selama tujuh tahun. Ia yang semula kaya raya tiba-tiba jatuh sakit. Karena sakit, ia tak dapat lagi bekerja dan kekayaannya yang bersumber dari bidang pertanian-peternakan itu pun akhirnya habis. Penyakitnya tergolong penyakit yang menular sehingga masyarakat mengusirnya dengan alasan tidak mau tertular. Penyakit itu pun lalu menulari anak-anak Nabi Ayyub. Satu per satu tertular, sakit, akhirnya meninggal. Hingga seluruh anaknya yang berjumlah sembilan itu pun meninggal.
Nabi Ayyub baru berdoa ketika mengetahui istrinya menjual rambutnya hingga gundul. Sebelumnya ia bekerja sebagai pembantu agar Ayyub dan dirinya bisa makan. Namun karena pekerjaan itu tak ada lagi, ia menjual rambutnya tanpa sepengetahuan Ayyub. Begitu Ayyub tahu istrinya menjual rambut demi mendapatkan makanan, ia pun berdoa. Dan lebih unik lagi, doa ini sama sekali tidak ada lafadz meminta. Ia hanya mengadu, bahwa dirinya sedang tersentuh musibah. Doanya juga pendek, meskipun musibahnya panjang.
Setelah Ayyub berdoa, Allah kemudian mengabulkan doa ini dengan segera. Ia kembali sehat. Hartanya kembali banyak. Dan mereka berdua kembali memiliki anak yang jumlah dan jenis kelaminnya sama dengan anak-anak sebelumnya; sembilan putri.

DOA NABI YUNUS

Kisah doa Nabi Yunus ini disebutkan dalam Surat Al Anbiya’ ayat 87-88.
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim’. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiya’ : 87-88)
Kondisi sangat gelap yang dimaksud ayat ini adalah, Nabi Yunus ditelan ikan Hiu. Berada di dalam perut ikan hiu di dalam lautan yang gelap adalah kegelapan yang teramat sangat. Pada saat itulah ia berdoa, dengan doa yang unik. Tidak ada lafadz minta dikeluarkan dari perut ikan Hiu, tetapi Nabi Yunus hanya bertauhid, menyucikanNya dan mengakui kesalahannya. Fastajabnaa lahu, maka Allah pun mengabulkan doa itu.

DOA NABI ZAKARIA

Kisah doa Nabi Zakaria ini disebutkan dalam Surat Al Anbiya’ ayat 89-90.
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: ‘Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang Paling Baik” Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadaNya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami” (QS. Al Anbiya’ : 89-90)
Kisah doa Nabi Zakariya ini tak kalah ajaib. Usianya sudah mencapai 80 tahun dan istrinya mandul, namun Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya. Allah memberinya putra lengkap dengan namanya Yahya, dengan cara ashlahnaa lahu zaujah, memperbaiki rahim istrinya. Uniknya, doa Nabi Zakariya juga tidak secara langsung meminta anak, tetapi ia meminta tidak dibiarkan hidup sendiri.
Hari ini kita banyak berdoa, doa kita bahkan panjang-panjang. Namun, kadang banyak yang mengeluh doa itu tidak juga terkabul. Maka kita perbaiki iman kita, kita perbaiki ibadah kita, dan yakinlah Allah akan mengabulkan doa kita. Apalagi apa yang kita minta tidaklah lebih ajaib dari musibah Nabi Ayyub, tidak lebih ajaib terselamatkannya Nabi Yunus, tidak lebih ajaib dari anak yang diminta Nabi Zakariya saat ia telah lanjut usia. Dan kita perlu tahu, lafadz doa tidak harus detail dan terang-terangan seperti apa yang kita minta, karena Allah mengetahui apa yang kita inginkan dan apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Wallahu a’lam bish shawab. 
Sumber : [Kisahikmah.com, disarikan dari pengajian KH. Farid Dhofir, Lc, M.Si]

SEDEKAH YANG PALING UTAMA MENURUT RASULULLAH

Para sahabat pun kaget dengan kalimat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Satu dirham mengungguli seratus ribu dirham.” Maka mereka pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?”
Jawab Nabi yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dan Ahmad bin Hanbal, “Seseorang hanya memiliki dua dirham, dan dia sedekahkan yang satu dirham. Sedangkan orang lain memiliki harta yang melimpah, dan hanya bersedekah dengan seratus ribu dirham dari hartanya itu.”
Inilah sedekah yang paling utama; bukan besarannya, tapi prosentase dari kekayaan yang dimiliki disertai kesungguhan, keihklasan, serta pengorbanan seseorang untuk beramal.
Maka orang pertama yang bersedekah dengan satu dirham lebih mulia dan unggul karena menyedekahkan lima puluh persen dari harta yang dimiliki.
Sedangkan orang kedua terungguli derajatnya, sebab melimpahnya kekayaan dan sedekah seratus ribu dirham tak ada maknanya bagi orang tersebut. Bahkan, saat disedekahkan sebanyak itu pun, orang ini masih memiliki berkali lipat harta dari yang disedekahkan itu.
Dalam riwayat yang lain dari Imam Ahmad bin Hanbal, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya oleh Abu Dzarr al-Ghifari, “Ya Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?” Jawab Nabi, “Sedekah yang dikeluarkan dengan susah payah oleh orang miskin.”
Apa yang terkandung dalam dua riwayat ini dan riwayat yang semakna lainnya, setidaknya memiliki dua dimensi hikmah.
Pertama, motivasi bagi kaum muslimin yang miskin. Bahwa mereka bisa menggapai pahala yang melimpah, bahkan diganjari telah memberikan sedekah terbaik. Caranya, dengan senantiasa membiasakan bersedekah dengan niat beribadah kepada Allah Ta’ala.
Membiasakan bersedekah juga sangat baik bagi kehidupan mereka yang miskin agar tidak silau dengan gemerlap harta dunia. Sebab, mereka yang terbiasa memberikan sedekah dengan ikhlas akan melihat harta sebagai ujian sehingga tidak gila dengannya.
Kedua, peringatan bagi orang kaya; agar tidak sombong dengan harta yang dimiliki atau jumlah sedekah yang dikeluarkan. Bahwa ada hak dari harta yang dimiliki untuk orang miskin, dan sesamanya; yang butuh atau meminta-minta.
Maka, siapa pun kita, semoga senantiasa bersemangat untuk bersedekah demi memakmurkan agama Allah Ta’ala. Aamiin. [Pirman]
sumber : http://kisahikmah.com/

HOME SCHOOLING ALA THOMAS EDISON - Pendiri General Electric




Komentar Thomas Edison saat di tanya wartawan tentang ibundanya yang luar biasa, saat ia mengenang ketika ia dikeluarkan dari sekolah karena di anggap anak bodoh di 3 bulan pertama bersekolah dasar -

“My mother was the making of me. She was so true, so sure of me, and I felt I had some one to live for, some one I must not disappoint.”
-Thomas Alva Edison -

"Ibukulah yang telah menjadikanku seperti ini, Beliau benar sekali, yakin sekali pada kemampuanku, dan saya merasa memiliki seseorang untuk apa saya hidup, seseorang yang tidak boleh saya kecewakan."

-Thomas Alva Edison-
Jenius Dunia dengan 1000 temuan yang di patenkan, pendiri General Electric yang memasok mesin untuk pesawab Boing dan Airbus.

===========================================
Kali ini kita akan belajar dari sejarah Ibunda Thomas Edison dalam mencetak anaknya menjadi sang Jenius Dunia.

Para orang tua dan guru yang saya cintai........

Masih ingatkah anda dengan kisah Thomas Alva Edison.. Ilmuan terkemuka dunia yang di Drop Out dari sekolahnya, pada 3 bulan pertama masa pembelajarannya di Sekolah Dasar....? karena dinyatakan sebagai anak yang lambat belajar atau yang orang bilang lemot oleh sekolahnya.

Yang jadi pertanyaan menarik buat kita adalah..... bagaimana sang ibunda Thomas bisa mencetak anaknya menjadi seorang Ilmuan yang luar biasa dengan lebih dari 1000 temuan yang dipatenkan.

sayangnya...tidak banyak yang di catat sejarah tentang riwayat ibu yang luar biasa ini, dalam membimbing anaknya hingga dewasa. Tapi yang jelas Thomas telah berhasil tumbuh menjadi orang yang sangat penuh percaya diri dan pekerja keras yang selalu berpikir positif.

Para orang tua dan guru yang saya cintai.......

Thomas adalah anak bungsu dari 7 bersaudara yang di besarkan oleh seorang ibu Single Parent yang katanya dinyatakan memiliki kelainan ADD dan Learning Disable. Sering melamun di kelas dan dan tidak langsung menengok jika di tegur gurunya.

Diceritakan bahwa Nancy Alliot ibunda Thomas adalah ibunda yang penuh cinta kasih....., dia bukanlah seorang psikolog apalagi pakar pendidikin, Nancy hanyalah ibu rumah tangga biasa, seperti kebanyakan ibu-ibu pada zamannya.Nancy adalah ibu yang selalu memotivasi anaknya;

Dia selalu mendorong anaknya untuk melakukan apa saja yang disukainya. Setiap kali Thomas mengalami kesulitan ibunya selalu berkata; "Thomas kamu anak hebat nak, kamu pasti bisa menemukan jawabannya ! Mommy percaya itu sayang..!"

Dan setiap kali Thomas berhasil menemukan jawaban dari masalahnya Nancy selalu dengan antusias menanggapi cerita anaknya, ia selalu berapi-api menanyakan bagaimana sampai akhirnya Thomas berhasil menemukan jawabannya.Nancy juga selalu memeluk anaknya mana kala anaknya berhasil dalam melakukan sesuatu; sambil selalu mengucapkan “Kamu memang anak kebanggaan Mommy Nak.....”

Para orang tua dan guru yang saya cintai......

Pernah suatu ketika Thomas sedang melakukan experiment-experiment yang dibuatnya; dan dia mengetahui jawaban dari masalahnya; lalu dia bertanya pada Mommynya; dengan jujur Mommynya berkata; Thomas sayang Mommy tidak tahu semua yang kamu tanyakan, tapi Mommy akan cari tahu siapa orang yang bisa menjelaskan semua ini pada kamu.

Maka diajaklah Thomas kecil untuk menemui orang-orang ahli dikotanya. Begitulah kejadian serupa terjadi berulang-ulang; Ibunda Thomas selalu jujur mengatakan keterbatasannya; tapi dia selalu memberi jalan keluar bagi anaknya. Termasuk suatu ketika pernah pertanyaan Thomas tidak bisa dijawab oleh siapapun; maka ibunya sibuk mengantarkan Thomas untuk mencari buku/referensi yang bisa menjelaskan seluruh keingintahuan anaknya,Namun sayangnya setelah berusaha selama berbulan-bulan orang dan buku yang dicari tak juga kunjung ditemukan....,

Tapi Nancy tidak pernah patah semangat melainkan justru membakar anaknya dengan kata-kata yang begitu menginspirasi; “Thomas anakku sayang... kita telah buktikan bahwa ternyata tak seorangpun kita temukan bisa menjawab semua ini dan tak satu bukupun pernah ditulis orang tentang hal ini; Thomas sayang, Kamu tahu apa artinya...nak..., Ya...itu artinya kamulah yang diminta Tuhan untuk menemukannya bagi orang lain.... Ayo nak kamu coba dan coba terus..... Mommy yakin satu saat kamu pasti berhasil......!

Para orang tua dan guru yang saya cintai.......

Thomas begitu terinspirasi oleh setiap ucapan ibunya.....

Cara-cara mendidik inilah yang telah membuat Thomas menjadi manusia luar biasa.. dan telah saya terapkan bagi kepada anak-anak saya dirumah.

Para orang tua dan guru yang saya cintai..
Bayangkan...., Suatu ketika Thomas berhasil menemukan lampu pijar, setelah dengan susah payah melakukan percobaan hingga 999 kali.

Kabar ini segera terdengar oleh surat kabar setempat dan besoknya segera muncul di halaman depan dengan judul;

“Thomas Alva Edison, akhirnya berhasil membuat lampu pijar yang tahan selama berhari-hari, setelah ia mengalami 999 kali gagal menemukan logam yang cocok digunakan untuk lampu pijarnya.”

Thomas kaget luar biasa membaca Head Line berita itu; segera saja ia datangi kantor redaksinya dan melayangkan protes atas pemberitaan yang tidak tepat.

Bukan main kagetnya sang Redaktur; dimana letak kesalahan beritanya.........?

Esok paginya pada surat kabar yang sama keluarlah Ralat yang berbunyi;

“Thomas Alva Edison, akhirnya berhasil membuat lampu pijar yang tahan berhari-hari, setelah ia "BERHASIL" menemukan 999 logam yang tidak cocok digunakan untuk lampu pijarnya.”

Para orang tua dan guru yang saya cintai......

apakah anda dapat menangkap letak perbedaannya.........?

** Latar belakang foto; Nancy Alliot Ibunda Thomas Alva Edison.

sumber: http://ayahkita.blogspot.com/2008/04/home-schooling-ala-thomas-alva-edison.html

INGIN BERHENTI MARAH PADA ANAK

Suatu hari ada seorang ibu yang bersifat pemarah dan sering memarahi anaknya.
Lalu ia betekad untuk mengurangi marahnya lalu si ibu tadi datang menemui Sang Kakek bijak, setelah mendengarkan semua cerita si ibu lalu sang kakek bijak memberikan sekantong paku dan mengatakan pada si ibu itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah...
Hari pertama ibu itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah....
Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang....
Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar...
Akhirnya tibalah hari dimana ibu tersebut merasa bisa mengendalikan amarahnya secara penuh dan tidak lagi cepat kehilangan kesabarannya...
Dia memberitahukan hal ini kepada sang Kakek bijak, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari penuh dimana dia tidak marah....
Hari-hari berlalu dan si ibu itu akhirnya memberitahu sang kakek bijak bahwa semua paku telah tercabut olehnya...
"Lalu sang kakek menuntun ibu tersebut ke pagar..……."Hmm....? Kamu telah berhasil dengan baik anakku...,..tapi, lihatlah lubang-lubang bekas paku ini, kayu pagar ini ,tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya, "
"ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan pada anakmu.….. "
"Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini... di hati anakmu dan orang lain".
"Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu... tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf.... Luka itu akan tetap ada.……"
"Dan tahukah kamu bahwa luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik bahkan lebih sakit lagi karena terus tersimpan di batin bawah sadar anakmu ...."
Ambilah semenit saja dari waktu kita untuk merenungkan hal ini ...
Mari belajar sikap tawadlu' dan adab memuliakan para Ulama...ya Robb! Rahmati kami...

Jumat, 17 April 2015

Love u husna

Husna skarang sudah hampir berumur 3 tahun. 
menjelang umur yang ke 3 husna sudah empat kali masuk rumah sakit.
1.    Saat lahir, ketika diperiksakan abi n umi, husna harus lahir dengan operasi cesar karena jalan lahir tertutup ari2 bahasa dokternya sih placenta previa.
2.    Waktu husna berumur 1 bulanan  waktu itu husna masuk rumah sakit lagi, dan harus tranfusi darah 2 kampet darah.
3.    Ketika husna kalo ndk salah berumur 1 tahunan, husna masuk rumah sakit ibu dan anak, katanya infeksi pencernaan
4.    Ketika husna berumur 2 tahun 10 bulan, masuk rumah sakit lagi karena sakit tipes dari tanggal 13 - 18 maret 2015. 

Mudah2 an ini yang terakhir, ya husna, abi n umi hanya bisa mendo'akan semoga husna diberikan kesehatan, keberkahan, keselamatan, dimudahkan dalam menuntut ilmu dan faqih dalam agama Islam ini. 
semoga Allah memberkahi 
love u husna 
Abi n Umi 


Kamis, 16 April 2015

Hadiah Untuk Ayah

Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ
Dengan gaya yang menarik Sang Khotib menceritakan “true story”... Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta... Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal, tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah... Wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya...
Suatu hari isterinya memberi tahu kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar... “Waduuuh saya sibuk Ma... Kamu aja deh yang datang...” begitu ucap si ayah kepada isterinya... Bagi dia acara beginian sangat nggak penting dibanding urusan bisnis besarnya.. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya... Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya…
Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah-ogahan... "Father’s Day" adalah acara yg dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya.. Karena ayah si Umar ogah-ogahan maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung…
Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim, ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap-gempita dari ayah-ayah mereka… Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya...
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu… ”Oh boleh..” begitu jawab gurunya, dan Pak Ariefpun dipanggil ke panggung…
“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya. ”Tentu saja boleh nak...” jawab Pak Arief...“ Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah..” Lalu si Umar mulai melantunkan QS. An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (dengan hapalan) dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)…
Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang mendayu-dayu… Termasuk ayah si Umar yg duduk dibelakang…”Stop... Kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna, sekarang coba kamu baca ayat 9...” begitu kata Pak Arief yang tiba-tiba memotong bacaan Umar. Lalu Umar pun membaca ayat 9…”Stop, coba sekarang baca ayat 21...lalu ayat 33..” Setelah usai Umar membacanya lalu kata Pak Arief “Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”... Si Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai”...
“Subhanallah… Kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…” begitu teriak Pak Arief sambil mengucurkan air matanya…para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya… Lalu pak Arief bertanya kepada Umar: ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain..?” Begitu tanya Pak Arief penasaran…
"Begini Pak guru… Waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam: ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakai-kan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)…
“Pak guru... Saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya..” Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb… Ditengah suasana hening... tiba-tiba terdengar teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yang berlari dari belakang menuju ke panggung…
Ternyata dia ayah si Umar yang dengan tergopoh-gopoh langsung menubruk sang anak... Bersimpuh sambil memeluk anaknya.. ”Ampuun nak... Maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu... Tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama... Apalagi mengajarimu mengaji…” Ucap sang ayah sambil menangis di hadapan anaknya…” AYAH MENGINGINKAN AGAR KAMU SUKSES DI DUNIA NAK... TERNYATA KAMU MALAH MEMIKIRKAN "KEMULIAAN AYAH" DI AKHIRAT KELAK... Ayah maluuu nak" ujar sang Ayah sambil nangis ter-sedu2… Subhanallah...
Sampai disini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yang mulai jatuh…semua jama’ahpun terpana, dan juga mulai meneteskan air matanya... Termasuk saya. Di antara jama’ah pun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya... Luar biasa haru...
Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu... Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya... Mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepda anaknya... Mungkin menyesal karena tidak mengajari anaknya mengaji, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yang hanya tergeletak di rak bukunya... dan semua dengan alasan SIBUK URUSAN DUNIA…!!!
Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akhirat, dan lebih sibuk dengan urusan dunia... Padahal saya sudah tahu kalau kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, senda gurau dan sangat singkat ini... Seperti firman Allah SUbhanahu waTa'ala dalam QS. Al-An'Am ayat: 32 (yang artinya) ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”...
Astaghfirullah... Hamba mohon ampunan kepada Allah..Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang…
Wallahu ‘alam bissawab... Semoga bermanfaat, khususnya bagi saya pribadi…

NHA / Nur Hasan Ahmad
(Dengan sedikit editan, insya Allah tanpa mengurangi hikmah kisah)


UIM I'am coming, Insyaallah

Universitas Islam Madinah ( الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة; )
al-Jami'ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah) adalah sebuah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 29 Rabiul Awal 1381 Hijriyah (6 September 1961).[1] Universitas ini terletak di Kota Madinah,Provinsi Madinah. Berdirinya Universitas ini sesuai dengan keputusan resmi Raja Saud bin Abdul Aziz tentang Pembangunan perguruan tinggi yang dikhususkan untuk mempelajari ilmu syariah dan keagamaan di Kota Madinah.

semoga engkau dimudahkan untuk bisa datang ke sana Husna Althafunnisa 

Rabu, 15 April 2015

Belajar dari Abdullah Bin Mas'ud Ra

Pada Suatu hari, Abdullah bin Mas’ud Ra berjalan, tiba-tiba terputus tali sandalnya. Dengan spontan beliau berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Dikatakan kepada beliau, “Hanya karena seperti ini engkau mengucapkan kalimat itu?” Beliau menjawab, “Ini musibah.” Lepasnya tali sandal memang bukan persoalan besar yang layak disebut musibah. Tetapi Ibnu Mas’ud, menunjukkan kepada kita bahwa sekecil apapun peristiwa hidup yang dialami, jangan menganggap tidak ada keterlibatan Allah Subhanahu Wata'ala di dalamnya. Musibah bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk menimpa orang-orang yang shaleh dan mulia. Hidup ini, hakikatnya keniscayaan adanya cobaan dan musibah. “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa oleh musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.” (QS: al-Baqarah: 155-156).

‘Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari ‘Atha bahwa orang-orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah para sahabat Nabi Muhammad Shallallhu 'alaihi Wassalam. Ayat ini mengajarkan kita bahwa kesempurnaan nikmat dan kemuliaan derajat seseorang di sisi Allah tidak menjadi penghalang turunnya musibah dunia kepadanya. Kita sering melihat, seseorang yang tekun menjalankan ibadah dan tekun berikhtiar, hidupnya seringkali didera musibah. Padahal di sisi lain, orang yang bergelimang dosa dan maksiat justru nampak lebih makmur, sejahtera, dan jarang mendapat musibah. Ketika tertimpa musibah, sebagian kita merasa sangat terbebani, marah dan tidak sabar. Lalu, kita pun protes, dan menggugat Allah; “Tuhan tidak adil kepada kita”. Kemampuan akal dan pemahaman kita cenderung memahami keumuman sebab dan akibat. Itulah kelemahan sisi manusiawi kita. Akan tetapi, sebenarnya, Allah  menanamkan kepada kita akal yang mampu memikirkan apa yang tersembunyi dari musibah itu sehingga ia mampu memetik hikmah yang samar dan sebab yang tersembunyi. Semakin banyak merenungkan hikmah ilahiah, ia akan mampu memahami perkara yang tidak mampu dipahami oleh yang lainnya tentang agungnya kelembutan Allah.
Sebenarnya, ujian dan musibah yang diberikan Allah itu “sedikit”. Kadarnya sedikit jika dibandingkan dengan potensi yang telah Allah anugerahkan kepada kita sebagai manusia.
Ujian Allah itu sedikit, sehingga setiap yang diuji akan mampu memikulnya jika ia menggunakan potensi-potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Hal ini tidak ubahnya seperti imtihan (ujian) yang dilakukan anak-anak didik kita. Soal-soal ujian disesuaikan dengan tingkat pendidikan masing-masing. Semakin tinggi kelas dan jenjang pendidikan, semakin berat soal ujian. Maka, setiap yang diuji akan lulus jika ia  mempersiapkan diri dengan baik serta mengikuti tuntunan yang diajarkan.
Apa yang telah Allah ajarkan kepada kita? Ternyata Allah sudah mengajarkan kita shalat dan sabar. Kedua hal inilah yang harus diamalkan sebelum dan saat datangnya ujian Allah. Karena itu, Hudzaifah Ibn al-Yaman mengatakan “Apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam dihadapkan pada satu kesulitan dan ujian, beliau melaksanakan shalat”. Allah juga telah berpesan; “sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Bagi orang yang sabar, musibah yang diterimanya memiliki dampak yang lebih besar daripada orang yang marah dan berkeluh kesah, meskipun musibahnya sama. Pada sebagian manusia, musibah menjadi rahmat baginya sehingga ia dapat “kembali” kepada Allah. Namun, tidak sedikit diantara manusia yang gagal dalam menyikapi musibah. Musibah itu ada yang tampak dan ada yang tersembunyi. Demikian pula dari sisi jenis dan kadarnya. Sebagian manusia diuji dengan musibah yang tidak tampak, namun sejatinya lebih besar jika dibandingkan dengan musibah yang tampak pada orang lain. Allah mengkhususkan dengan musibah yang demikian, karena hal itu lebih sesuai untuk menjadi penghapus dosanya.
Manusia harus terus berjuang, karena hidup adalah pergulatan antara kebenaran dan kebatilan, persaingan antara kebaikan dan keburukan. Tentu saja dalam pergulatan dan pertarungan itu pasti ada korban; pihak yang benar atau yang salah. Korban itu bisa harta, jiwa, kedudukan dan lain-lain. Tetapi korban itu hakikatnya sedikit, bahkan itulah yang menjadi bahan bakar memperlancar jalannya kehidupan serta mempercepat pencapaian tujuan.
Maka, apapun ujiannya, itu baik. Yang buruk adalah kegagalan menghadapinya. Takut menghadapi ujian adalah pintu gerbang kegagalan, demikian juga ujian-ujian Ilahi. Muslim yang baik akan merespons setiap sesuatu yang ditakuti dengan membentengi diri dari gangguannya. Biarkan dia datang kapan saja, tetapi ketika itu kita telah siap menjawab dan menghadapinya. Orang yang siap menghadapi ujian inilah yang layak mendapat keberkahan.
Keberkahan itu sempurna, banyak dan beraneka ragam. Ia bisa berupa limpahan pengampunan, pujian, dan ketenteraman hati. Semua keberkahan itu bersumber dari Tuhan Yang Memelihara dan Mendidik. Keberkahan itu dilimpahkan sesuai dengan pendidikan dan pemeliharaan-Nya kepada kita.*

Ditulis Oleh: Shaifurrokhman Mahfudz 


Penulis adalah Sekjen Andalusia Islamic Center 



Mimpi 4 Orang di depan Ka'bah

Pada suatu hari empat orang ABG  tengah berkumpul di depan Kabah. Udara cerah, panas mentari pagi menghangatkan hati, menghibur diri. Merekabercengkrama, adu bicara, berdiskusi, beradu mimpi, asik sekali. Nyata benar betapa berkualitas celoteh dan canda mereka, buah lingkungan yang sohih, tarbiyah yang sholih. Abdul Malik, salah seorang remaja berkata; “Ya Abdullah!” Panggilnya dengan ramah pada sahabatnya, “Apa yang menjadi mimpimu kelak?” “Aku ingin menjadi amir di Haromain.” Jawab Abdullah mantap. Menyebut dua kota suci Mekah dan Madinah itu. “Semoga Allah memberkahi cita- citamu” Kata Abdul Malik. “Aamin..!” Yang lain mengaminkan. “Kalau kau Mush’ab, Apa mimpimu kelak?” Lanjut Abdul Malik lagi “Aku ingin menaklukan dan menguasai wilayah Syam, Irak dan Persia!” Senyumnya mengembang. “Semoga Allah memberkahi mimpimu.” Lanjut Abdul Malik lagi. “Aamin.” Yang lainpun mengaminkan. “Dan Kau sendiri, apa mimpi besarmu wahai Abdul Malik?” Giliran Abdullah bertanya. Abdul Malik menatap langit. Pandangan yang tajam. Menembus awan putih. Seakan ingin melongok buku takdir yang tercatat di langit sana. “Aku…” Kata Abdul Malik pelan. “Aku ingin menguasai dunia ini…” Suaranya pelan. Seakan berbisik. Lalu senyap. “Semoga Allah memberkahi mimpimu…!” Suara Abdullah memecah kesunyian sesaat. “Kini kau, apa cita-cita hai Urwah?” Abdul Malik melanjutkan. Urwah, remaja paling muda itu menjawab mantap “Semoga Allah memberkahi semua mimpi-mimpimu untuk menguasai negri. Tapi kalau Aku sendiri..” Urwah memotong kata-katanya. Mengambil nafas, lalu berkata lagi, “ Aku ingin menjadi seorang Aliman – Amilan. Orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.” “Aamin…!” Yang lain serentak meng-aminkan. 
Berlalu bulan dan tahun. Sejarah berlari. Mencatat segala even. Membuat segala momen. Mewujudkan doa dan harap. Buku takdir terbuka. Dan nyatalah kebesaran-Nya. Doa dan mimpi para remaja, kini benar-benar di depan mata. Wujud. Ada. Nyata. Abdullah Putra Zubair RA, benar- benar menjadi Khalifah di dua daerah suci, Mekah dan Madinah. Mush’ab bin Zubair, adik Abdullah, pun Allah perkenankan menjadi Amir di wilayah jauh hingga ke Persia. Tak berbeda dengan Abdul Malik bin Marwan, menjadi Khalifah Bani Umayah, menguasai hampir separuh dunia. Dan terakhir, Urwah putra Zubair ketiga, menjadi guru besar di Madinah. Mengajar beragam ilmu. Mengabdi setiap waktu. Dalam momen-momen hidup. Segala peristiwa ada. Dan nyata. Berawal dari mimpi. Sebuah mimpi. Kekuatan mimpi adalah modal husnudzon pada Allah. Kekuatan harapan. Optimisme. Obsesi. Cita-cita. Dan doa. Lalu kerja. Kemudian waktu dan sejarah akan membuat takdirnya jadi nyata.
Apa IMPIAN mu yuk kita sampaikan kepada Allah .

Episode Mimpi Ibnu Zubair bersaudara ini banyak sekali versinya dan disampaikandiberbagai event dg sahabat dan tabi'in yang bervariasi. Tapi yang menarik adalah tidak ada perubahan dari mimpi – mimpi mereka. Subhanallah. Apa IMPIAN mu (Husna Althafunnisa) ?

Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik pada Allah…

Ini kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang ayah bekas budak. Selaman menjadi budak, libur Jumat sebagaimana ditetapkan kesultanan dimanf...