Sabtu, 23 Mei 2015

SEBUAH RENUNGAN AKHIR PEKAN UNTUK KITA SEMUA

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Kamis, 21 Mei 2015

CARA CUCI GINJAL ALAMIAH






Secara Alami BERSIHKAN Ginjal Anda Kurang Dari Rp.10.000,-. Ber-tahun2 Ginjal kita menyaring darah denga n membuang: Garam, Racun dan yang tidak diinginkan memasuki tubuh kita. Seiring berjalannya waktu, terjadi akumulasi garam dan memerlukan perawatan pembersihan.

Bagaimana kita akan melakukan CUCI GINJAL ini?


• Sangat mudah, pertama-tama ambil seikat Seledri.
• Cucilah sampai bersih, kemudian dipotong kecil2 dan masukkan ke dalam panci.
• Lalu tuangkan air bersih dan didihkan selama sepuluh menit dan biarkan dingin.
• Kemudian saring dan tuangkan dalam botol yang bersih dan simpan di dalam kulkas hingga dingin.
• Minum satu gelas setiap hari dan Anda akan melihat semua akumulasi garam dan racun lain yang keluar dari ginjal Anda sewaktu buang air kecil.


Anda juga akan melihat perbedaan yang tidak pernah anda rasakan sebelumnya.Seledri dikenal sebagai pengobatan terbaik untuk membersihkan ginjal dan itu ALAMI!


Silahkan disebarkan ke semua teman-teman anda ... agar bisa memberi info positif buat banyak orang yang membutuhkan informasi ini. Terutama bagi orang2 yg rutin konsumsi obat dokter .

Senin, 18 Mei 2015

Di dunia modern yang penuh dengan gadget ini, kadang kita malah jadi merasa sendiri.
Ada pepatah. “Gadget mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Dimana kita merasa nyaman berdiskusi dengan teman yang jauh, entah dimana, tapi malah mendiamkan teman di sekitar meja kita.
Bukannya ngobrol bersama, kita malah sibuk dengan gadget masing-masing.
Inikah dunia modern. Tonton film ini, dapatkan pencerahan. Film dilengkapi dengan terjemahan teks bahasa Indonesia.
Semoga bermakna.


Selasa, 12 Mei 2015

PEMILIK DUNIA SUDAH DATANG MENEMUI KITA.

"Pak, boleh saya pinjam uang?" kata seorang yang miskin. Orang kaya ini mendengar, "750 ribu saja.'' "Saya akan beri kamu Rp 1 juta. Enggak usah pinjam. Pukul 16.00 saya akan datang ke rumah kamu."
Pukul 16.00, si kaya ini sudah ada di depan pintu rumah si miskin. Pintu dibuka. Seorang anak kecil, bertanya, "Mau ketemu siapa, Pak?"
"Bapakmu ada? Tadi beliau ke rumah saya. Mau pinjam Rp 750 ribu. Saya bawa Rp 1 juta. Kasih tahu ya, saya sudah datang. Bawa uang yang saya janjikan."
Anak ini bergegas memberitau ayahnya. "Di depan ada seseorang yang ayah ada perlu dengannya? Dan katanya datang dengan membawa uang Rp 1 juta." "Suruh orang itu tunggu Ayah, Nak."
Anak itu memberitau si kaya. "Kata Ayah saya, mohon tunggu sebentar." Lima menit berlalu. 10 menit berlalu. Dan, 30 menit berlalu. Tak ada tanda-tanda ayah miskin ini keluar menemuinya.
"Nak," tanya si kaya. "Kamu udah ngasih tahu ayah kamu?" "Sudah." "Apa katanya?" "Bapak suruh nunggu..." "Ayah Kamu tahu saya janjian pukul 4 sore ini. Dan ayah kamu yang perlu bantuan. Tidakkah kamu sudah sampaikan? Saya sudah bawa bantuan yang diperlukannya? Maukah kamu kasih tahu lagi ayah Kamu?"

Anak itu kembali kepada ayahnya. "Ayah, kasihan lho. Bapak itu baik sekali. Harusnya ayah yang menunggunya di depan pintu. Ayah sudah tahu bapak itu akan datang pukul 4 sore membawa bantuan yang ayah minta." Ayah miskin ini menoleh sambil tersenyum dingin. "Beritahu Bapak itu... Kalau mau membantu, kudu sabar..."
Anak itu bingung. Sungguh ayah miskin itu enggak tahu diri. Enggak tahu bersyukur. Enggak ngerti posisi. Dan kiranya, ayah miskin itu adalah kita juga adanya. Tidakkah kita sadari? Betapa Allah Yang Maha Kaya sudah janjian dengan kita? Atau kita tidak tahu? Lupa? Atau sengaja melupakan? "Sesungguhnya shalat itu kitaaban mauquutaa, sudah ditentukan waktu-waktunya."
Kita paham kita adalah manusia lemah yang selalu dan banyak keperluannya. Dan kita butuh itu, minta itu, dari Allah. Tapi saat Allah datang, di tiap-tiap waktu shalat, kita jarang sekali menunggu-Nya di pintu alias jarang sekali kita datang duluan ke Masjid, ke Rumah-Nya.
Alangkah indahnya jika si ayah miskin, yakni kita-kita ini, yang tahu bahwa Yang Maha Kaya bakal datang, lalu menunggu di muka.
Alangkah indahnya kita berposisi siap-siap menunggu kedatangan-Nya. Akan tetapi, kita enggak perhatian. Akhirnya, keanehanlah yang terjadi. Kita butuh dunia-Nya, tapi enggak tahu Pemilik Dunia sudah datang menemui kita.
Isra Mi'raj adalah peristiwa agung. Saat itu, perintah shalat diberikan langsung kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa perantara Jibril dan siapa-siapa di antara malaikat-malaikat-Nya.
Carilah Allah. Tungguin Allah. Sebaiknya kita bersiap-siap menyambut kedatangan-Nya. Jika tidak, maka kita seperti ayah miskin yang bodoh lagi tidak ada bersyukurnya di hadapan Allah.
Benahilah shalat kita. Benerin yang wajib, idupin yang sunnah. Kalau bisa, sebelum Allah datang, kita sudah duluan standby menunggunya. Sebelum azan, kita sudah bersiap di atas sajadah, di masjid, untuk menyambut-Nya.

Jika menurut sodara tausiah ini ada manfaatnya, SilaHkan di-share untuk teman, sahabat, keluarga, atau bahkan orang yang tidak sodara kenal sekalipun..
Berdoalah agar Allah selalu membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq, dan hidayah-Nya hingga menjadi orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah. Aamiin..
Selamat Bergabung di jamaah Damai indonesiaku Online = ( klik disini ) =https://www.facebook.com/pages/Damai-Indonesiaku-Online/1464743513754252?ref=hl

Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik pada Allah…

Ini kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang ayah bekas budak. Selaman menjadi budak, libur Jumat sebagaimana ditetapkan kesultanan dimanf...